La Vie en Rose

    Share
    avatar
    Mapaw
    Budak
    Budak

    Posts : 28
    Join date : 2009-06-27
    Age : 26
    Location : Santorini

    La Vie en Rose

    Post  Mapaw on Mon Jun 29, 2009 12:10 pm


    Julien Cottilard———Edvard Dragomir
    --------------


    Original Character : Edvard D. Ravn, Julien Cotilard-Ravn
    Race : Vampire


    P r o l o g

    Andai kehidupan tahun 1800 selamanya berlaku, kami pasti sudah berakhir di nisan marmer Montmarte akibat black death atau TBC. Atau bahkan menjadi salah satu dari mereka yang mengemis, mengibakan sepotong roti gandum dari para French Lady—para pendatang yang congkak hingga berani mengangkat dagu mereka di depan Rosario yang Agung, petinggi di desa kami, Snagov. Ah, terlalu menyedihkan, cherie. Apalagi jika kau menerawang jauh ke belakang, ketika Anne Boleyn kehilangan kepalanya akibat tuduhan incest, mistress, atau apalah itu. Tukang sihir. Ya, mungkin kami tidak lebih baik darinya karena kami sama-sama membuat variasi kehidupan manusia dan kami bukan manusia biasa. Namun kami adalah Ravn. Yang merajai hirarki darah vampir di seluruh dunia. Yang tertidur ratusan tahun lamanya di bawah peti marmer bersegel darah seorang perawan. Yang bangkit kembali berkat wafatnya Vlad the Impaler dan Helene Rainier sang penjaga grail terakhir. Dan kami bukan tukang sihir—kami vampir, minus etos yang telah terdoktrin di kepala kalian mengenai bawang, salib, dan cahaya. Bisa aku bilang itu semua sampah belaka? Yang sebenarnya tersisa dari etos itu adalah, kami sungguh-sungguh imortal—dan kami haus darah manusia.


    Oleh karena itu—persetan dengan semua isu dunia, karena itu bukan dunia kami. Beware people, we’re back. And we’re in rusty wrath.




    Snagov, 28 Desember 1675

    "Vladimir!"

    Cahaya bulan mengurai rambut keemasan seorang wanita berkulit porselen. Berkilau, menyaingi perhiasan perak dengan manik turquoise yang tertata di leher dan jari manisnya. Mungkin jika batu turquoise itu dipertontonkan pada waktu yang tepat, seperti pada annual ball Snagov dan pesta pribadi para penghuni bukit Hum yang berisi aristokrat, nona perancis, dan para saudagar kaya, maka Helene akan terlihat sangat memukau, mengalahkan Rose Vivere sang primadona desa yang hanya bermodalkan bedak tebal. Sungguh, wanita itu manis meski terlihat pucat, hanya saja malam ini ekspresinya kelewat absurd. Malam-malam hangat yang penuh dengan celoteh dan dentingan Bach-Vivaldi di Avebury Court yang ia lewatkan bersama Vlad kini berganti kepedihan. Panik. Ketakutan. Chaos—tonight


    Jalinan rajutan liquor renda roknya yang anggun terkoyak sana-sini. Putihnya gaun malam satin milik gadis itu berubah kelam, sekelam kabut yang menyelimuti hutan yang terletak di perbatasan Snagov. Helene tidak peduli dengan berapa banyak manusia yang menggandol salib, pasung perak, beserta obor di belakang sana. Hanya waktu yang ia perlukan, waktu untuk mengembalikan Vlad pasangannya, waktu untuk menyembunyikan grail dari tangan kotor para manusia, dan waktu untuk dirinya sendiri—menyelamatkan hidupnya. Dalam pelarian tengah malamnya, tak henti-henti Helene meraungkan nama Vladimir sang penjaga grail lain, pasangannya—yang terlebih dulu menemui takdir, bersanding dengan lolongan serigala yang terdengar sendu seakan melepas kepergian pria asal Transylvania itu. Sang wanita kaukasian pucat terengah-engah, ia memang tidak bernafas, tapi tubuhnya masih milik manusia—yang butuh penyesuaian keadaan.


    Kukunya yang tajam diliriknya sekilas. Sempat terpikir akan mengoyak satu-persatu tubuh penduduk desa yang tengah diliputi euforia pemburuan vampir tersebut, lalu membalikkan keadaan, dengan titel pesta pembantaian masal dan well, dahaganya selama puluhan tahun akan terpuaskan hanya dengan satu malam. Darah. Dengan aroma karatnya dan rasa asin yang menggiurkan, sanggup membuat Helene yang anggun berubah liar. Wanita itu memantapkan pilihannya. Antara pohon pinus yang menjulang tinggi, ia memberhentikan larinya. Jari lentiknya melesak di antara surai emasnya yang tertimpa cahaya bulan. Ia frustasi, hingga menjambak rambutnya perlahan. Helene nyaris meneriakkan nama Vladimir—lagi, ketika pendengarannya menangkap sesuatu: derap kaki para pengeksekusi. Baru kali ini, selama tujuh ratus tahun hidupnya, Helene sang aphrodite merasa terancam. Dengan kata kematian bergema dalam tiap nafasnya.


    Oh, dear, seharusnya ia menyadari dari awal. Tidak akan ada yang imortal.

    Grail legendaris melingkar angkuh di lehernya. Meniupkan aura bahwa siapa saja yang memakainya—ia terkutuk. Tali dan pendant nya berkilau tertimpa cahaya bulan, dengan ukiran Travoli dan jampi yang telah diciptakan leluhur sejak berabad-abad lalu. Sebuah ruby merah darah melekat tepat di tengah lingkaran pendant itu. Segel—tempat jiwa yang terkutuk berada, mereka, para kaum imortal. Semuanya dibungkus Helene dalam kain satin robekan gaunnya dan lalu dipendam dalam suatu tempat—rahasia. Helene terisak kesal, dadanya sesak oleh rentetan memori yang tiba-tiba melintas di benaknya. Tusukan palang perak yang menancap tepat di jantung partnernya tidak menguar bau karat yang familier. Mereka berteriak kegirangan seakan Napoleon baru saja merebut suatu daerah lagi. Dan scene terakhir, berlangsung begitu saja. Frame demi frame gerakan sang algojo yang menebas kepala vampir pria itu—dan ia tamat. Sial. Terkutuklah kepada mereka yang ikut dalam konspirasi ini.


    Well, itu satu-satunya cara memusnahkan kami, memang.


    “Kau tidak bisa kemana-mana lagi, Dame Rainier!”

    Ha, situasi genting seperti ini—masih sempat-sempatnya menyebut titel bangsawan. Manusia, ck. Apa memang selalu menjilat seperti ini? Adalah sang butcher, tukang daging desa yang menghalaukan pisau copper dan obor serta memergokinya. Di sebelahnya berdiri pria berjanggut tebal dan tambun mengacung-acungkan pasak perak. Seorang pastor dengan kostumnya meletakkan salib perak di dadanya, diarahkan tepat pada Helene. Paling konyol—ada yang melemparinya dengan bawang putih, beserta ratusan penduduk desa yang dibakar euforia perburuan vampir.


    “Ini saja? INI SAJA YANG KALIAN PUNYA?” Helene meraung, tertawa maniakal kemudian, mendesis, kemudian memamerkan taringnya. Ya manusia, ini bukan sekadar properti penguat alur cerita.


    Terkutuklah kalian manusia, yang telah menghabisi Vladimir!

    Wanita penjaga grail itu berbalik perlahan, menyibak jubah marun dengan lambang keluarganya yang menaungi gaun malam. Bahkan pada saat genting seperti ini, parasnya masih terbilang anggun dan rupawan. Dieu, sang nona memang manipulatif. Kapan ia pernah jujur pada para penduduk desa bahwa ia dan sang partner yang bertanggung jawab atas insiden hilangnya penduduk desa. Berkala—dan rutin? Irisnya merah darahnya berpendar nyalang, sifat genetis vampirnya kembali nampak. Ia tersenyum, manis dan lama-lama berubah timpang menjadi sebuah seringai.


    ”Indeed, I Am. There’s nowhere to go,”

    *********


    Somewhere, unknown date.

    Bangun

    Bangun


    Bangun

    Bangun!
    avatar
    gals
    Hamba Sahaya
    Hamba Sahaya

    Posts : 38
    Join date : 2009-06-28
    Age : 26
    Location : bOJon9 k3nYoT

    Re: La Vie en Rose

    Post  gals on Tue Jun 30, 2009 1:20 am

    Natalia Vodianova as Isla Holmquist


    Verran - Norwegia, 17 Mei 1814.

    Musim panas segera tiba—membawa euforia kegembiraan bagi seluruh penduduk Norwegia. Hari dimana mereka terbebas dari cengkeraman Napoleon Bonaparte dan tahta pada akhirnya jatuh ke tangan Christian Fedrik—raja pertama mereka.

    Berita tersebut telah tersebar ke seluruh pelosok negeri, bahkan ke Desa Verran. Desa dimana peradaban seakan mundur beberapa dekade. Meskipun terpencil dari daerah-daerah lainnya, tak membuat desa ini ketinggalan berita. Mereka melonjak, berpelukan, dan berpesta—merayakan hari kemerdekaan tanah air tercinta.

    Namun mereka juga bukan rakyat suka berpesta-pora dan meninggalkan pekerjaan. Ya, bekerja harus numero uno. Para petani harus tetap mengurus sawah mereka dan hewan-hewan ternak dengan setia dirawat oeh para sang majikan. Daratan Verran yang datar dan tidak berbukit-bukit menjadi salah satu kemudahan untuk membuka lahan persawahan atau perkebunan. Oleh karena desa ini cukup terkucil, mereka menyediakan sendiri kebutuhan mereka masing-masing. Di tengah desa telah disediakan tempat untuk menjual dan membeli barang—atau yang biasa disebut pasar. Selain menjadi pusat perdagangan, sentral desa juga merupakan pusat dari segala aktivitas desa lainnya. Layaknya ibukota suatu negara, di sana terdapat beberapa rumah makan kecil, bar, toko peralatan, dan gereja.

    Penduduk desa hidup dalam kedamaian dan harmoni. Sekalipun terkucil, mereka tidak hidup melarat. Kebutuhan mereka selalu tercukupi. Sawah, kebun, dan peternakan selalu setia menghidupi penduduk di desa sederhana itu. Sangat jauh berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu—dimana sawah kering kerontang, kebun tidak berkembang, dan tak ada rumput untuk memberi makan ternak. Akibatnya penduduk saling berebut harta dan tak jarang bertengkar.

    Perubahan ekstrim disebabkan oleh sebuah kalung ruby.

    Kalung ruby yang ditemukan oleh Ralph Holmquist saat hendak menanam bibit di sawahnya. Tak heran jika dari banyak perkebunan dan sawah di desa ini, hanya sawah keluarga Holmquist yang masih dapat bertahan. Cerita selanjutnya sudah dapat ditebak, tentu. Kalung ruby itu disimpan dengan baik oleh Ralph. Sawah dan kebunnya semakin subur. Bibitnya dijual ke seluruh penduduk desa. Sawah-sawah dan kebun-kebun lainnya menjadi hijau dan ternak dapat hidup sehat. Sejak saat itu tidak ada yang meragukan kekuatan kalung ruby itu. Mereka menganggapnya sebagai jimat pemberian dewa Heimdall—dewa kesuburan. Oleh karena itu, kalung itu disebut Heimdall, sebagaimana nama dewa yang dianggap telah membawa kehidupan pada desa yang nyaris mati itu.

    3 generasi Holmquist terlampaui sudah dan Heimdall masih merupakan pusaka desa yang tak tergantikan—yang kini disimpan di kediaman Holmquist.

    Hari ini, alun-alun desa sudah dipadati penduduk. Sebuah tiang terpancang di depan alun-alun dengan bendera Kerajaan Norwegia yang berkibar kencang. Semua orang mengamati bendera itu—berharap sang bendera juga membawa perubahan yang lebih baik seperti Heimdall.

    Suara derap langkah kuda terdengar dari kejauhan. Makin lama kian mendekat. Beberapa menit kemudian, kuda-kuda itu terlihat—dengan seorang pemuda di masing-masing pelana kuda. Mereka berhenti di depan alun-alun desa dan turun dari tunggangannya. Peluk, cium, dan tangis segera menyambut mereka—para pemuda yang dengan sukarela mengorbankan diri mereka untuk menjadi tentara pasukan Norwegia di Perang Napoleon selama kurang lebih dua tahun. Para orangtua yang menginginkan putranya kembali. Adik-adik yang menunggu kepulangan kakaknya. Dan kekasih yang rindu akan pasangannya. Suasana yang penuh haru dan sukacita.

    Empat pemuda bersaudara segera menghampiri keluarganya—yang langsung memeluk mereka. Ibu mereka menangis, begitu pula dengan adik-adiknya. Si sulung menceritakan ringkasan perjalanan pulang, sementara tiga pemuda lainnya mengatakan bahwa tidak ada satupun di antara mereka yang menderita luka serius pasca perang. Namun tak ada satupun yang mendengar mereka, sang keluarga hanya dapat memeluk setiap inci tubuh mereka yang dapat dijangkau. ”Isla, sudah cukup. Sampai kapan kau mau memelukku? Kau ingin mencekikku, bukan?” ucap Si Sulung; Gavin pada salah satu adiknya yang terus memeluknya erat.

    Namun gadis bernama Isla—adik Gavin—sama sekali tidak mengendurkan pelukannya (baca: cekikan). “Hehehe, sori, kak. Belum puas peluk kakak, nih! Ternyata tentara sukarela pun masih kalah sama adiknya sendiri” ejeknya sambil terkikik.

    ”Huh, dasar!”

    Isla meneliti pemandangan sekitar. Mencari satu sosok lain yang sangat dirindukannya. Tepat pada saat itu, sebuah teriakan terdengar diiringi isak tangis.Avan! Kenapa kau pergi, nak?!” Mata Isla menyipit memandang sumber suara—ibu yang kini bersimpuh di atas lutut dan dipeluk oleh sang suami. Perut Isla bergejolak. “Kak, Avan kenapa? Ia..ia ada di sini kan, kak? Ia pulang bersama kakak, kan?” tanyanya panik. Berharap apa yang diduganya sama sekali tidak benar.

    Gavin menatap adiknya—berharap bukan ia yang harus mengucapkan kata-kata berikut. ”Avan…Avan tertembak saat perang dan … tidak ada yang dapat kami lakukan. Maaf, Isla”

    Dunia seakan mati saat Isla mendengar kalimat itu. Tidak. Bukan dunia yang mati, namun dirinyalah yang mati. Semuanya gelap. Benar-benar gelap.


    Ini tidak mungkin terjadi! Mustahil!




    Avan ♥️ Isla
    avatar
    Mapaw
    Budak
    Budak

    Posts : 28
    Join date : 2009-06-27
    Age : 26
    Location : Santorini

    Re: La Vie en Rose

    Post  Mapaw on Mon Jul 06, 2009 8:22 pm

    Few Days Earlier
    --------------------------------
    “Damien?”

    “Ya?”

    “Kau tahu Chevalier dan ayahku akan membunuhmu jika mereka menangkap kau di sini—bersamaku?”

    “Ha,” pria muda itu mendengus, nyaris terbentuk seringai dari wajahnya yang tirus. “Hard as I try I know I can’t quit. Something about you is so addictive,Mon dieu, manis sekali bukan?

    Natalya, gadis itu tersenyum kecut. Sejauh ia menerawang, hanya ada kehangatan yang dibingkai kolam iris biru laut milik Damien—pria yang baru dikenalnya selama 48 jam. Aroma gin yang menguar kuat dari mulutnya, wajah tirusnya sekan mengguratkan kisah hidup yang teramat panjang. Merintis hidup dari tetes kesengsaraan hingga berakhir pada pengkhianatan terhadap hidupnya sendiri. Entah berapa banyak entitas yang dikorbankan pria ini demi memuaskan suatu dahaga, apapun itu, terlukis samar dari sepasang manik rubi yang sendu. Natalya memejamkan kedua matanya, menggeliat nyaman dalam rangkulan dan hanyut dalam suara beledu si pria muda. Andai ia tidak terjebak dalam lingkaran hades yang diciptakan Damien, ia pasti telah bersanding di altar dengan pria-nya tiga jam lalu, dengan lily favoritnya sebagai bouquet, dan Natalya tidak akan melolong mencari pertolongan, beberapa saat dari sekarang.


    Ah, dunia ini memang tidak adil bukan? Ketika seorang domba muda akhirnya jatuh cinta pada serigala berumur ratusan tahun yang telah mengenyam segala bentuk pentas kehidupan. Dan tentu saja, kata ‘wanita’ masuk dalam kategorinya.


    I believe in destiny,” Natalnya berbisik “Dan itu mungkin kau,”

    Eternal,

    Ha!

    Destiny’s for losers.
    It’s just a lame excuse for letting things happen to you instead of making that happen. Tsk—


    Apa arti kata ‘takdir’ bagi Damien? Nay. Ia bahkan tidak mempunyai pegangan hidup semenjak bangunnya ia dua ratus tahun lalu. Pelipisnya berkedut janggal tiap kali ia mengingat berapa lama waktu dan darah yang dikorbankan untuk merenggut takdirnya sendiri—takdir kaumnya dari para makhluk ignoran yang nyaris memusnahkan klan mereka di pelosok dunia. Andai mereka mortal, pasti mereka tidak membutuhkan grail terkutuk itu untuk menyelamatkan rasnya, andai mereka mortal, tidak akan ada skandal desa mengenai hilangnya puluhan penduduk secara misterius, andai mereka mortal—mereka tidak akan sehaus dan begitu maniak terhadap apapun yang menyangkut cairan merah pekat itu. Ya, takdir orang berbeda-beda. Takdirnya dan saudaranya adalah grail. Sementara takdir Natalya—berada dalam genggamannya.

    Sudah cukup menghabiskan waktunya, Julien.

    “Biar aku beri tahu kau tentang apa itu—’destiny’,” Damien mengecup lembut kening gadis yang bahkan belum genap berusia delapan belas tahun itu.

    “Adieu,”

    CRASSHH

    Tolong… Chevalier…


    Bulir kristal mengalir perlahan dari pelupuk mata si gadis, memohon kepada waktu untuk mengembalikan takdir yang seharusnya ia genggam—berjalan di altar bersama tunangannya, mempunyai setidaknya lima keturunan, dan menggarap ladang gandum mereka bersama. Namun, apa yang bisa ia perbuat ketika Damien—Julien telah menyedot habis darahnya? Natalya terpaku dalam tawa maniakal si manusia jejadian. Matanya terpancang tak berdaya ketika sang penyedot darah menikmati sisa terakhir hidupnya. Baginya—ini akhir, namun bagi Julien, ini awal Mei yang sempurna.


    Takdir—terkadang memang menyakitkan.

    “Oy,”

    Asap dari suatu tempat terdispersi oleh cahaya bulan, mengurai partikelnya hingga jelas membentuk siluet pria lain di pintu gubuk. Jaket panjangnya menutupi seluruh tubuhnya. Jangan heran, meski temperatur bisa mencapai 35 derajat musim ini, mereka tidak akan merasakan apapun, termasuk nyeri ketika kau tersengat lebah atau diguyur minyak panas. Mati rasa. Tak hanya menyangkut fisik, sebenarnya. Dengan menopang sebelah tubuhnya pada kayu rapuh pintu gubuk, pria muda itu mendekap tangannya dengan santai menenggarai seorang wanita tak bernyawa dan pelaku yang masih menikmati sisa makanannya.


    “Apa yang membuatmu begitu lama, hm?”

    J
    ulien menyeka bibirnya yang diguyur aroma karat, kini lengan kemejanya yang cerah benar-benar ternoda. “Sabar. Kau tahu, jarang mendapatkan darah segar aroma ini. Lagipula, ia cukup menarik kok,”


    “Jangan bermain-main dengan makanan, Julien,” ia mendesis sambil memuntir ujung jaketnya.

    Damn you Edvard,” Julien mendengus. “Bisakah kau menikmati hidup sebentar? Pantas saja gadis-gadis menjauh darimu. Awkward, frigid uhh. Kau melenyapkan mangsamu duluan, bahkan sebelum kau menyentuhnya,”


    “Well, aku tidak akan diuntungkan toh dengan kelakuan womanizer seperti milikmu itu,” Edvard berkata dengan datar.

    Of course! Kau jaring, lalu kau makan. Simpel, itu prinsipnya,” ia terkekeh ringan. Dalam hati, Julien merutuki betapa lambatnya pemikiran saudaranya itu. Entah, namun siapa sangka Edvard mampu meraup mangsa lebih banyak dari Julien pada suatu malam—dengan perbandingan korban wanita lebih banyak daripada pria.


    “Aku tidak menjaring mereka,” ia melanjutkan “They will come to me,” perkataannya sungguh sarat dengan nada kemenangan, namun tetap. Tak ada yang berubah dari ekspresi statisnya. Julien memutar bola mata, stagnasi dalam perdebatan tak bermakna ini. Lebih baik jika waktu digunakan untuk melesat jauh dari desa ini sebelum penduduk menangkap basah perbuatan mereka. Selanjutnya dijatuhi hukuman pancung, guillotine yang sedang marak, atau dikuliti hidup-hidup oleh kepala desa, ayah si gadis ini. Tak ada satupun dari pilihan itu yang benar-benar menantang nyali mereka berdua. Andai ada vampir klan lain yang bersedia untuk turun tangan memperlihatkan kemampuannya, well, mungkin mereka bisa tinggal di desa ini lebih lama.


    “Let’s get outta here, Monsieur Damien” Edvard menganggukan kepalanya ke arah luar, membalik tubuhnya dengan anggun dalam satu putaran. “Sebelum mereka menjadikan kita daging panggang Hanukkah,”


    “Izinkan aku mengucapkan salam perpisahan kepada nonaku satu ini,” Julien mengecup singkat tangan Natalya yang mendingin, nyaris sedingin es, sementara tangannya sendiri bersuhu sama. Dalam temaram cahaya bulan, wajah gadis itu tersorot sedikit. Raut janggal jelas tergurat, namun tak bergeming, kini damai dalam tidur abadinya.


    “Ayo,”


    Present
    -----------------------------

    Julien merogoh benda mungil berukir celtic kuno dari saku sisi jubahnya dengan asal. Lagi-lagi, hanya ditemani lolongan serigala yang saling bersahut, seakan merajut isyarat bahaya. Bayangannya dan pria di sampingnya terlukis jelas di tanah yang agak meretak, menimpa siluet lain yang terpeta malam itu. Edvard yang berada beberapa kaki di depan seakan mengabaikan suara gemerincing yang berasal dari batu emerald berlapis emas yang melingkar di tangan Julien beradu dengan benda-benda di sakunya. Nafasnya—ah, abaikan. Mereka tidak bernafas sesungguhnya. Tidak pula detak jantung yang memompa kehidupan manusia normal. Julien menyalakan pemantik mungil perak itu dan mulai menguarkan asap cerutu. Tidak masalah, mereka toh tidak bernafas. Dan Edvard pun tidak keberatan menghirup udara sampah yang seringkali dipersalahkan atas kematian mereka di dunia ini. Lebih bagus malah. Kau bisa membunuh beratus-ribu, berjuta, bahkan semua makhluk rendah ini dengan kepulan asap yang bahkan tak mempunyai nyawa. Well, tanpa suatu intensi.


    Mengapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya?

    Detik menggelinding, dalam deru waktu yang mereka buang di suatu hutan antah berantah terhitung sejak dua hari lalu. Julien telah mengenyam kenikmatan berpuluh—beratus, entah, berapa banyak cerutu kuba kualitas terbaik dari kantung seorang pria tua kehabisan darah di desa sebelumnya, sementara sang saudara harus patuh mengikuti insting yang tetap terpancang pada sebuah benda abstrak yang menjadi takdir mereka selama menjejak bumi sekian ratus tahun. Seluruh inderanya dipaksa bergumul untuk berkonsentrasi, jauh lebih keras dari usaha pria satunya. Sejuta ketika itu adalah sebuah polaroid monokrom yang tereksekusi dari ledakan-ledakan kecil yang membuncah di jalan pikir Edvard. Cepat—dan tak berwarna, namun citraannya semakin jelas selagi detik beranak pinak.


    Apa—dan dimana benda brengsek pengganjal hidupnya itu?

    Malam semakin merayap ketika wajah-wajah tirus pucat itu semakin indah ditempa cahaya bulan. Kini Edvard dan Julien berjalan berdampingan pada jalan setapak yang cukup luas—untuk ukuran jalan setapak. Tak perlu jeli untuk meraba suasana malam itu. Bulan purnama, siluet ranting kering, lolongan serigala, dan aroma kuat cashmere lily yang biasa digunakan bangsa Schruff untuk mengkremasi jenazah, dan dua orang yang tidak berasal dari ras manusia. Apa lagi yang kalian bisa pertaruhkan untuk lolos dari tempat ini?


    “Mukamu tegang,” Julien membuka pembicaraan.

    Edvard menelan ludah, kemudian meraba perlahan daerah yang dirasa mengganjalnya. Luar biasa kering, lewat beberapa momen kerongkongan itu tidak diguyur cairan yang biasa membuat instingnya liar.


    “Jelas,” ia menghela nafas, “Andai tiap inci bagian hutan ini bisa bertransformasi menjadi darah,” ia melanjutkan, “Dan aku muak dengan pemandangan pohon kering ini,” Ah, cliché . Nada muak memang mencuat sedikit dalam racauannya. Memang seharusnya begitu, bukan?


    Sebelah tangan Julien mengepal, lalu meninju pelan bahu pria kaukasian pucat di sebelahnya yang terlihat kacau, namun tetap memukau sekalipun didandani pengemis desa ignoran. Tangannya lalu melingkar pada leher Edvard, menjangkau dengan mudah sejak fakta bahwa Julien lebih tinggi beberapa inci dari pemuda itu. Ia mencoba nyengir, namun lebih timpang kepada seringai jahil.


    “Lihat itu,” asap cerutu dihempaskan ke udara kosong, memenuhi langit pekat dengan asap artifisial mematikan. “Lights, love, and glory,” Julien mengucap ketiga kata dengan penuh penekanan—dan aksen dibuat-buat yang ia tiru dari para pengembara Bristol. Sekali lagi ia melepaskan asap cerutu, kali ini dari hidungnya. “Beberapa mil lagi, Bung. Dan kita panen,” Julien tergelak nista sejurus kemudian.


    Perkataan saudaranya membuat sepasang olive milik Edvard memindai penuh gejolak pada sebentuk kerlap yang menyentak megah pekatnya malam. Poseur yang sempurna, dari sudut bukit yang tengah ia dan Julien daki. Sebuah peradaban lain yang seakan terisolasi dari peradaban manusia lain dengan adanya bebukitan yang menghimpit, serta lampu-lampu melingkar yang membatasi desa. Indah—begitu para manusia menyebutnya. Julien masih belum berhenti mengisap dan menghembuskan asap, frekuensinya malah bertambah. Nampaknya berat kantungnya berkurang drastis sejak puluhan cerutu itu terbakar sia-sia. Sementara Edvard ditelan keheningan. Sebagian jiwanya masih beringsut pada kemerlap sang peradaban, sebagian lagi meronta mencari nyawa. Semuanya disatukan dalam suatu pita merah rapuh bertuliskan—takdir.


    Pelataran kota yang sepi—terlalu sepi untuk kemegahan setara Snagov diperlebar lima kali. Sebuah papan kayu menjulang disediakan untuk menyambut para pengembara yang akan memasuki desa, meski cat telah mengelupas hampir setiap sisinya, mereka masih bisa melihat jelas tulisan bercat hijau yang mengenalkan para asing kepada peradaban ini. ‘Verran’. Entah, baik Edvard maupun Julien tidak ada yang pernah mendengar kota dan kata ini, meski rasanya tidak ada daerah yang belum terjamah oleh mereka selama ratusan tahun. Manik mereka bertemu pandang, bertaut dalam perasaan yang sama. Makan malam, petualangan, dan gadis—uhm, itu untuk Julien tentunya. Jika burung kenari kuning yang mengintai mereka dari balik ranting oak tidak berkicau, maka kota ini akan mirip miniatur pekuburan Montmarte yang luasnya berhektar-hektar tanpa digawangi aura kehidupan. Hanya—kota ini jauh lebih megah dibandingkan sebatas batu nisan yang mengukuh pada tiap persemayaman manusia.


    “Verran? Kota macam apa ini?” Julien mendesis, sesaat setelah cerutunya padam dan dilempar dari jari kanannya. “Aku tidak pernah menemukan di peta—dari racauan para pemilik bar—dari cerita para pengembara—dari buku—ataupun dari gadis-gadis yang suka berpetualang,”


    “Verran, hm?”

    And where the hell are these people? Dengan lampu menyala dan asap yang mengepul dari cerobong? Aku rasa ini belum tengah malam. Petang baru menyambut,”

    Angin menyaput rambut Ed, manik safirnya menyalang siaga mencari jejak kehidupan.

    Ed, did you hear me?

    “Ha,” ia mendengus dengan penuh kemenangan. “Sepertinya mereka—di sini,” sebuah kertas kayu melambai dari genggaman Edvard. Begitu banyak warna yang menghiasi sebuah kabar pesta dansa tahunan desa. Mata Julien memicing, kemudian mengambil perkamen dari tangan pria itu. “Tanggal berapa sekarang?”


    Who cares?” Edvard memeta senyum asimetris khasnya, “Kita menuju tempat ini, aku butuh setidaknya dua barel,”

    “Whoa. Kau benar-benar lapar rupanya, hm?”

    ***


    Sejumput kemenangan telah mereka genggam. Beberapa blok dari gedung mewah yang terletak di tengah kota, sekelompok manusia tengah hilir mudik dengan rajutan renda liquor dan tenunan satin mewah yang terindah yang masing-masing mereka miliki. Rambut digelung ketat bagi para hawa, nyaris serupa pada tampilan tiap entitasnya. Tangan mereka yang bersampul stoking transparan menggamit lengan pria yang dibalut tux mewah, lengkap dengan sapu tangan sutra yang diselipkan segitiga pada saku atas. Lady. Mereka melengkapi diri dengan clutch atau kipas tangan berenda dengan mutiara, ruby, atau emerald bergelung angkuh pada leher. Kereta kuda berbagai bentuk memanjang hingga berpuluh meter, menunggu sang tuan turun di pelataran lobi ballroom.

    Julien Cottilard dan Edvard Dragomir, keturunan terakhir Ravn menapak di karpet merah dengan dagu terangkat. Dan hei, mereka bahkan tidak mengenali sang walikota yang mengulurkan jabatan tangan, namun hanya disambut senyum dan single glance yang membuat antrian gadis di seberang sana tak hentinya mengedarkan tatapan takjub pada kedua makhluk tersebut. Mon Dieu, andai wajah mereka tidak sempurna seperti patung daud pahatan Michelangelo, pasti penjaga akan segera menendang mereka jauh-jauh dari gedung yang dipenuhi socialite Verran, atau apalah nama tempat ini. Pasti.


    “Makan malam, Julien?” Edvard, dengan suara beledunya mendesis janggal dan memamerkan deretan giginya yang rata dan putih—selain itu, ah. Kalian juga tahu sendiri kan?

    Aha. Julien mengenali nada ini.

    Somebody’s gotta get a meal—or else.


    _________________

    Why so serious?

    a. w a y. of. l i f e.
    Mapaw

    Sponsored content

    Re: La Vie en Rose

    Post  Sponsored content


      Current date/time is Thu Nov 15, 2018 9:25 am