The Future

    Share
    avatar
    Autumn Leaves
    Hamba Sahaya
    Hamba Sahaya

    Posts : 54
    Join date : 2009-06-30
    Age : 26
    Location : nowhere

    The Future

    Post  Autumn Leaves on Tue Jun 30, 2009 10:06 pm

    [Timeline : hari pertama masuk sekolah kelas xii, ½ 5 sore]

    Gemerisik dedaunan diterpa angin khas pergantian musim—terdengar sunyi dan sepi. Langit lembayung yang hampir mencapai pelatarannya menimbulkan siluet panjang bayangan benda-benda yang ada di permukaan bumi. Gaung suara-suara dari kejauhan tampak sayup-sayup seolah-olah tidak ada sama sekali. Raga itu kembali dalam diam—kesendirian yang semu. Manik hitamnya terpaku pada hamparan permadani lembayung di atasnya. Satu—hanya satu yang ada di pikirannya saat ini. Masa depan.

    Sekelebat memori yang terus menghinggapi pikirannya seakan tidak akan pernah berhenti. Memori yang sangat membekas di hati seorang Nisrina Adisti Karina. Mungkin hanya dirinya yang masih mengingat semua itu. Mungkin hanya dirinya yang masih tenggelam dalam masa lalu. Mungkin hanya dirinya yang masih membawa kepingan janji itu. Tapi tidak apa. Justru itulah yang membuatnya bisa berdiri hingga saat ini—membuatnya terus mengejar masa depan yang menurut sebagian besar orang sangat menentukan jalan hidup seseorang. Masa depannya adalah masa depan orang itu.

    Helaan napas pelan terdengar darinya. Dari sinilah ia akan memulai rintangan terbesar yang akan membawanya ke masa depan. Bayangan masa depan begitu mengerikan di benaknya sampai hari ini. Tidak ada yang tahu perihal masa depan, kecuali Sang Pengatur Waktu. Sekeras apapun usaha yang dilakukannya nanti, akan tetapi jika Dia tidak mengizinkan—siapa yang tahu?

    Dan ketika pada akhirnya sang gadis berbalik badan dan mulai melangkahkan kedua kakinya, sesuatu itu terjadi. Genangan air yang entah dari mana asalnya—terinjak olehnya. Tak bisa dipungkiri lagi kalau—

    BRUK!!!

    —ia terpeleset jatuh.



    Sakit.
    Kepalanya terasa sangat sakit akibat benturan hebat di lantai. Kedua tangannya mengelus-ngelus kepala guna mengurangi rasa sakit yang menderanya—nihil. Genangan air itu sedikit membasahi bajunya. Tsk. Bagaimana ia bisa pulang dalam kondisi seperti ini, eh? Manik hitam yang terpancang dalam kedua bola matanya tak sengaja memperhatikan siluet yang terpantul pada sang genangan air. Eh? Siapa yang—

    “GYAAAA!!!”

    Si—si—si—siapa—bayangan siapa ya—yang—
    Gestur kepalanya berputar ke arah sekitarnya, sementara kedua alisnya berkedut hampir menyatu. Tidak ada tanda-tanda seorang lain pun yang datang—tentu saja. Walau bagaimanapun juga, ini sudah kelewat sore. Semuanya sudah pulang. Sosok wanita muda yang mirip sekali dengan dirinya. Gadis tujuh belas tahun itu mematung. Nampaknya kepalanya semakin sakit manakala melihat bangunan sekolah yang terlihat jauh berbeda dibanding dengan yang dilihatnya sebelum terjatuh. Ini—ini jelas aneh. Bangunan sekolah yang jauh sangat modern, bayangan dirinya...

    Apa ini masa depan?


    ((ooc : ceritanya pergi ke masa depan sekitar umur 23 tahun
    ooc 2 : deskripsi ke masa depannya terserah, boleh jatuh juga atau yang lain (sekreatif mungkin)
    ooc 3 : postingannya pendek juga gapapa ko~ :3
    ooc 4 : pake nama sendiri yah, tapi pake sudut pandang orang ketiga :3
    ooc 5 : tempatnya di depan kelas IPA 7))
    avatar
    alexist
    Pramuria
    Pramuria

    Posts : 80
    Join date : 2009-06-26
    Age : 26
    Location : Behind the Scene

    Re: The Future

    Post  alexist on Tue Jun 30, 2009 11:25 pm

    Dewasa ini Bogor memang terasa lebih panas dari biasanya. Konon menurut warga kota itu hal ini disebabkan karena Matahari Departmen Store yang berseberangan dengan Plaza Kapten Muslihat a.k.a. Taman Topi kini telah bersinergi dengan KFC TaTos. Para ahli sendiri menyatakan bahwa peningkatan suhu ini terjadi akibat adanya sesuatu yang sampai saat ini belum mereka ketahui.

    Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah di kelas XII bagi seorang siswa bernama Axel. Tidak berkesan. Tidak ada yang spesial dengan telur. Tidak ada yang istimewa dengan Farmhouse. AC kelasnya pun tidak terasa sehingga membuat kelas terasa bagaikan spa. Axel menghabiskan sisa waktunya di sekolah tercintanya untuk melamun di kelas yang juga dicintainya lebih daripada cintanya kepadamu. Bagaimana kelanjutan kisah romantes dan kekompakan kelasnya ini untuk setahun ke depan? Kemana dia akan melanjutkan pembelajarannya setelah keluar dari kerangkeng ilmu ini? Semuanya begitu membebani pikirannya, bergumul di batinnya, membawanya ke alam bawah sadarnya.

    "I'm sinking, girl!"
    "Yeah, baby, yeah I'm drowning!"
    "Oh no, Oh no!"


    Tak dapat bernapas, cavum nasalisnya serasa digenangi air. Axel tersentak bangun, mendapati meja yang dijadikannya alas tidurnya tadi tergenangi ilernya sendiri. Axel segera keluar dari ruangan kelas dengan niatan mengunjungi restroom terdekat untuk sekedar membasuh wajahnya yang belepotan iler. Tapi dia mendapati dirinya bukanlah di sekolah yang biasa menjadi tempat peraduannya. Semua terkesan begitu futuristik dan sangat tidak mungkin itu adalah sekolahnya mengingat sekolahnya harusnya sangat berhemat(pelit) dalam melakukan pembaharuan.

    Linglung, itulah yang Axel rasakan. Dia membenturkan kepalanya ke handle pintu kelasnya. Darah mengucur dari pelipisnya. Dia tidak bermimpi.

    Sayup-sayup Axel mendengar suara seseorang. Sangat merana sepertinya. Suara itu berasal dari dalam kelas, dia tidak menyadarinya tadi bahwa dia tidak sendirian di kelas itu. Ada seseorang tertunduk di pojok ruangan, menangis.

    Dengan enggan Axel mendekati orang itu. Seragamnya, suaranya, lekuk wajahnya, mengingatkan Axel akan seseorang. Tak diragukan lagi, dia mendapati dirinya menangis didepannya.


    _________________
    I was once the king... king
    I was a santa back then... santa

    But for now,

    I'm just a boy before flowers
    flowerflowerflower
    avatar
    Gelow
    Majikan
    Majikan

    Posts : 78
    Join date : 2009-06-26
    Age : 26
    Location : Di balik Leptop

    Re: The Future

    Post  Gelow on Wed Jul 01, 2009 2:46 am

    “Hoaaahmm…“

    Kelopak sayup dibelakang kacamata bening-biru itu mulai nampak, menunjukkan wajahnya yang tembam serta sawo matang. Badan gempal itu terbawa keluar, diseret para kaki menuju luar pintu kayu warna abu—malas. Maniknya mengerling lemas, sedangkan reseptornya hanya mengimpuls kata sepi. Yaiyalah jam segini—lagipula buat apa kau masih ada di sekolah, Ndut? Rapat KIR. Yeah. Membahas regenerasi—O YEAH. Menyusun siasat tepat untuk menyiksa—ralat, mendidik agar adik-adik kelas lebih kuat secara mental demi mengemban amanah untuk setahun kedepan. Wait. Hold a sec. Tadi bilang apa? A-dik—a-dik ke-las. Jamak. Lebih dari satu. Ada berapa angkatan di sekolah? Tiga angkatan. Kalau begitu karena jamak berati kemungkinan yang tersisa hanya dua. Tiga dikurangi dua sama dengan—stop it. Jangan mulai autis, oke? Kesimpulan yang diambil: sekarang ada dua angkatan di bawahnya—ia yang paling tua. Kelas XII. Yap. Seketika beberapa akronim mengerikan mulai mengelilingi ruang cerebrumnya. UAN, PMDK, SNMPTN—dan blablablablablah.

    “Wew.”

    Impuls terus berjalan, merangsang neuron lainnya hingga menimbulkan beberapa rangkaian huruf seperti; Kedokteran, Informatika, Design, dan—

    “WEW!“

    Major Arcana. Yap. Seperti kartu tarot yang banyaknya alamakjang namun hanya beberapa yang dianggap major—begitu pula pilihan jurusannya kali ini. Sudah 2 tahun ia menyadari betapa tiga jurusan tersebut mendominasinya dirinya dan sudah 2 tahun pula ia tenggelam dalam dilemma. Yeaps. Ia belum menentukan pilihannya. Aaah, nanti juga tau maunya kemana, pikirnya—dulu. Tapi apa nyatanya sekarang? Pada detik ini dimana ia telah resmi menambahkan satu digit pada grade-nya, ia belum juga menemukan jati dirinya. Keabsurdan dalam diri yang tak dapat diungkapkan telah membuat kepribadiannya makin kompleks, hingga akhirnya dapat mengimbangi ketiga aspek tersebut. Ia bertekad menolong orang, tapi ia cinta teknologi, dan juga menikmati seni. Nilai presentasenya pun masing-masing sama, 33.33%.

    (menggaruk-garuk kepala)

    Sebenarnya tidak gatal sih, hanya kebingungan. Manik itu kini makin sayu. Hari sudah sore, bahkan tukang bakso di Gang Selot saja sudah tutup. Tapi entah mengapa kakinya terus saja terpancang kaku di lantai abu ini. Apakah nilai percepatan gravitasi di sekolah ini telah melebihi 10 m/s2? Well, who knows. Ia terlalu malas untuk mengukurnya karena membuatnya teringat pada Professor Marga Utama.

    Kakinya pun kini mulai menggeser, merapat pada dinding beranda sekolah. Manik sayunya kini menatap lurus, melihat ayam kecil di tengah langit biru. Sedangkan si tangan tengah menopang dagu—yap, melamun. Ia mulai berkhayal bagaimana kalu ketiga profesi tersebut (dokter, programmer, dan designer) digabung dan dikerjakan oleh satu orang. Berfantasi ria akan hal yang impossible dikala sekolah mau tutup—makin autis saja ya hobimu, Ndut. Akan tetapi baru saja saat ia ingin mulai berfantasi tiba-tiba saja sekelebat bayangan putih melintas di belakangnya. Ah, paling ada makhluk ghaib lewat doang, pikirnya singkat. Ternyata kata doang kurang tepat dideskripsikan karena—

    —BRUUUK!

    Segala keseimbangannya hilang. Tubuh gempalnya kini meluncur mengikuti arah gravitasi. Tak salah lagi. Makhluk. Itu. Mendorongnya.

    “AAAAAAAAAAAAAAAAA…!!”

    Semuanya terjadi seperti slow motion. Hambatan udara, teriakan nyaring, semuanya sangat lambat. Akan tetapi waktu terus bergulir, tak terasa kini bibirnya menjadi maju seperti ingin mencium lantai bebatuan lapangan parkir dan—

    —BRUUUK!

    Bokongnya sakit.

    Tunggu dulu—kenapa bokong duluan? Bukannya tadi bibirnya dulu yang mau mencium lantai lapangan parkir?

    Kepalanya menoleh sana-sini. Tidak ada motor. Lantai licin—bukan bebatuan. Dan by the way, ini di lantai tiga loh.

    Ohmygoat.

    Sepertinya majas pleonasme sudah tidak berlaku lagi kali ini. See? Jatuh itu tidak selamanya ke bawah. Buktinya jatuh dari lantai dua malah sampai ke lantai tiga. Aneh. Tapi ah, peduli oncom. Yang penting sekarang ia masih hidup. Itu saja sudah syukur kok. Ily pun segera berjalan menyusuri lantai tiga. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Cahaya di lantai tiga ini kan selalu terang—kenapa menjadi gelap? Penasaran, ia pun langsung menggerakkan sendi putarnya dan—wow! Tinggi sekali. Semua wilayah sekolahnya kini telah bertingkat berpuluh lantai dan menjulang tinggi bak pencakar langit. Seluruh ornamen gedung pun telah bertransformasi lebih modern. Tiba-tiba terdengar bunyi ting-tong yang ternyata adalah—amajing! Ternyata itu suara lift! Dengan rasa girang yang bercampur norak, Ily langsung berlari menuju lift dan segera menekan angka 2. Yap. Ia ingin kesana. Ingin melihat kondisi kelas yang dicintainya. XII IPA 7.

    [XII IPA 7]

    AC ukuran mini, touchscreen jumbo beserta tablet seukuran whiteboard kini telah terpampang di kelas. Laptop kini telah ada pada masing-masing meja murid. In focus? Sudah tidak ada rupanya—kan ada touchscreen. Oke, semuanya memang sudah berubah. Dan ini sangat amajing. Tapi ada satu kekurangan. Kelas ini terlalu sepi dan juga—oh! Siapa itu disana? Duduk sendirian di pojokan sedang memainkan laptop. Wanita dewasa berbadan gempal dan berjilbab. Berkulit sawo matang dan memakai kacamata bening-biru, mirip seperti yang ia pakai. Memakai jaket putih ala dokter namun dengan motif lukis nuansa vintage. Sepatunya pun tak kalah unik, terdapat tulisan-tulisan ‘gelow’ yang diatur dengan tipografi yang bervariasi. Praduga beserta paradigma muncul secara abstrak di otak Ily. Apakah wanita itu seorang dokter? Apa ia seorang designer? Hmm... Kalau begitu lebih baik dekati saja dan tanya, sepertinya orangnya baik.

    Tap. Tap. Tap.

    Semakin dekat. Ily dapat melihat apa yang ia kerjakan di laptopnya. Sebuah animasi organ-organ dalam manusia bergerak sementara wanita itu mengetikkan sesuatu semacam coding di dalam box yang mengatur pergerakan animasi tersebut. Wow. Seorang programmer? Tidak mungkin. Lalu sebenarnya wanita ini pekerjaannya apa? Seorang dokter? Designer? Programmer? Atau mungkin…ketiganya sekaligus?

    “Memangnya bisa?“ ucapnya mendadak pada wanita berjilbab itu.



    Anjrit, panjang en lebai abis.
    Btw, boleh ada interaksi antar chara orang laen gak?


    Last edited by Admin on Wed Jul 01, 2009 11:38 pm; edited 1 time in total


    _________________

    I'm admin Gelow. Cool You shouldn't mess with me. *dilempar sendal swallow*
    avatar
    Autumn Leaves
    Hamba Sahaya
    Hamba Sahaya

    Posts : 54
    Join date : 2009-06-30
    Age : 26
    Location : nowhere

    Re: The Future

    Post  Autumn Leaves on Wed Jul 01, 2009 7:44 am

    Bogor di musim kemarau tak ada bedanya dengan musim-musim lainnya. Kau tidak hanya akan mendapatkan hujan tiap harinya, akan tetapi juga mendapatkan angin sejuk yang bisa membuatmu terlelap. Angin yang melelapkan sekaligus menghanyutkan jiwa seseorang yang tengah galau—seperti dirinya—galau memikirkan masa depan yang tidak bisa ia bayangkan sebelumnya. Roda kehidupan yang terus melaju bak roda mobil yang digerakkan mesin—Sang Pengatur Waktu pun begitu, rite? Dan kini, saat masa depan itu terhampar jelas di hadapannya—raganya seolah kaku.

    Lift—sejak kapan SMA Negeri 1 Bogor alias smansa ada liftnya? Bangunan empat—tidak—lima—lebih—bahkan mungkin lebih dari sepuluh lantai. Sungguh seperti berada di dalam mimpi—mimpi di siang bolong yang berubah menjadi kenyataan layaknya kisah Alice in Wonderland atau Peterpan. Hanya saja ini berupa sesuatu yang riil bukan sekedar imajinasi belaka. Manik hitam itu terus terpaku pada ukiran di tiap sisi bangunan sekolah yang indah serta bentuk—hei, kenapa ia baru menyadari bentuk bangunannya?—futuristik dan artistik. Siapa yang telah—membuatnya?

    Disti bangkit dan merapikan pakaiannya yang sedikit basah oleh genangan air. Merapikan jilbab yang membalut kepala sampai pinggangnya, sebelum kemudian berjalan menuju kelas— sang gadis memandang plat kelas yang berubah menjadi hologram bertuliskan—

    XII IPA 7


    NANI?! Se—sejak kapan ada—yang seperti ini???
    Sang Karunia Allah membuka perlahan pintu yang menghubungkan dunia luar dengan ‘dunia kelas’nya selama ini. Tak perlu dijelaskan panjang lebar sebenarnya, bagaimana gadis itu diberikan pemandangan yang luar biasa ketika seluruh raganya telah memasuki ruangan tersebut. Oh, my... Rasanya ia ingin sekali meleleh sekarang. Itu berlebihan namanya, Dis. Oke, jadi—WOW. Lo—lokernya—laptopnya—semuanya—satu kata yang langsung terlintas di benaknya saat itu juga.

    Aku ingin sekolah lagi di sini.


    Sigh.
    Selama beberapa menit lamanya, Disty termatung di depan pintu kelas sementara kedua indera penglihatannya menyapu seluruh ruangan kelas. Sampai pada akhirnya gestur tubuhnya membawanya menuju loker—kalau itu masih bisa dikatakan ‘loker’ karena banyak perubahan—tentu. Ia ingin memastikan sesuatu—sesuatu yang selama ini disimpannya dalam hati. Kesenduan itu pun menderanya seiring dengan langkahnya yang kian mendekati tempat yang dituju. Entahlah. Semuanya telah berubah. Semuanya yang ada di sini. Memori kenangan akan hari itu terkikis begitu saja.

    Kenyataan yang menakutkannya seakan benar-benar datang padanya. Tidak ada yang tertinggal. Semuanya—telah berubah. Jemari kanannnya membuka tas selempang yang bertengger di bahunya—mendapati benda lain ada di dalamnya. Kartu—apa? Rasa sendu itu semakin menderanya bersamaan dengan tulisan yang dibacanya. Dan setitik kristal bening terjatuh di pipinya. Arsitek. Titel yang selalu dicita-citakannya dan dia. Ini bukanlah bentu kristal kesedihan, dear, melainkan kebahagiaan.

    Suara langkah kaki yang mendekat cukup berhasil menyadarkannya. Disty menolehkan kepalanya dan agak terkaget ketika melihat siapa yang datang. Sosok pemuda yang tampak jauh lebih dewasa dan lebih tinggi dari terakhir kali ditemuinya. “Axel, eh? Rupanya kau masih ada di sini,” ujarnya seraya menghapus kristal bening yang masih tersisa di kedua matanya, lantas menyunggingkan seulas senyuman tipis.

    Dan suara lainnya pun menarik perhatiaannya. Lukisan wajahnya menyiratkan rasa senang tak terkira. “ILY! Kau--berbicara pada siapa--dirimu?”

    ((ooc : ada interaksi chara-lah, min~ xD))
    avatar
    The Mantes
    Budak
    Budak

    Posts : 28
    Join date : 2009-06-26
    Age : 25
    Location : Bogor

    Re: The Future

    Post  The Mantes on Wed Jul 01, 2009 10:34 am

    Sementara itu, di tempat lain seorang dokter bedah merangkap fotografer tersenyum bangga dari kejauhan. Ia memandang lurus ke arah eks-sekolahnya. ”Eks-sekolah? Tak kan pernah ada eks-sekolah. Di sini aku dikembangkan”. Ia melangkah masuk dan ia terkejut, hampir tidak percaya. Sistem pengenal retina, sistem pengenal sidik jari, dan sistem-sistem yang lain. Tak habis pikir sang dokter dibuatnya. Dijelajahinya inci demi inci bangunan tersebut, masih sama tapi dengan balutan teknologi yang canggih. Tiba-tiba ia merasakan hawa sejuk di salah satu ruangan. Tulisan hologram ”Selamat datang di kelas XII IPA 7” membawa memorinya ke satu bait lagu.

    ”Pulang kembali aku padamu, seperti dahulu” dan ”Jikalau ia ingin, bebas berlari jauh. Curahkan untukku, separuh nyawaku, separuh otakku, dan separuh ragaku.”

    Tiba-tiba ia dikejutkan dengan teriakan dari dalam kelas itu. ”Iqbal, kesini!” Aku menoleh ke arah teriakan itu dan melihat tiga sosok yang jauh berubah. Pertama, Disty, seorang arsitek handal yang mengangani bangunan-bangunan terkenal di kota yang mulai rapuh dimakan usia. Di bawah tangan dinginnya, kota tua ini disulap bagai kota megapolitan (bahkan jika ada istilah gigapolitan mungkin lebih pantas). Kedua, Firly, ilmuwan yang direkrut CERN karena dia mencetuskan teori antimatter yang membuat seluruh teori fisika kuantum luluh lantak. Dia juga merupakan ketua IDA (International Doctor Association). Secara sistematik organisasi, dia adalah bos sang dokter. Pantaslah, dua Nobel dialamatkan padanya. Ketiga, Axel. Siapa yang tidak kenal Axel? Pengusaha mapan, hampir semua sektor riil dikuasainya. Jangan pernah meminta uang receh padanya, ia akan memberimu cek atau koper. Ia pun dijuluki Mr. EM. Tak sugan ia memberi pinjaman modal bagi jelata yang tidak mampu membuat penghidupannya.

    Sementara sang dokter bedah-yang juga merupakan ketua SDA (Surgeon Doctor Association)-yang merangkap fotografer. Hampir mirip Tompi, tapi sayangnya dia tak bertalenta dalam bidang musik, jadi dia memilih bidang seni yang menurutnya mudah, fotografi.

    Ia melihat ke arah papan tulis. Di situ tertulis ”Pilihan Mata Pelajaran”. Disentuhnya papan tulis itu dan terkejut. Tulisan itu berganti menjadi ”Pilihan Guru Pengajar”.

    ”Apa? Pelajaran jarak jauh? E-learning? Bukan! Tele-learning...”

    Dan di meja para murid terdapat satu set komputer dengan dual-display serta mixer untuk meramu musik.

    ”Pelajaran kesenian pasti lebih menyenangkan dengan alat-alat ini”, pikirnya.

    Sang dokter dikejutkan lagi dengan teriakan ”Ayah!” dari sang putri. Putri dan istri sang dokter tersenyum bahagia. ”Ayah...aku diterima bersekolah di sini!”. Puji dan syukur dipanjatkan sang dokter pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Sang dokter pun bertanya pada teman-temannya, ”Bagaimana kabar kalian setelah perpisahan di Pulau Karibia?”



    jadi harus gimana? editan yang ini udah bener?

    Edited by Admin:
    godmodding: menggerakkan atau mendeskripsikan karakter orang lain tanpa seijin pemegangnya.
    Di post gw kan gw belum ngedeskripsiin gw itu pas udh gede jadi apa, nah di post elu lu udah ngedeskripsiin gw jadi ilmuwan tanpa seijin gw. Jd gitu bal.


    Last edited by The Mantes on Thu Jul 02, 2009 10:32 pm; edited 3 times in total (Reason for editing : godmodding apa goodmodding, da tara nyaho urang ge...)
    avatar
    Electronic.Boy
    Hamba Sahaya
    Hamba Sahaya

    Posts : 39
    Join date : 2009-06-27
    Age : 26
    Location : bogor

    Re: The Future

    Post  Electronic.Boy on Thu Jul 02, 2009 11:03 pm

    Lalu datanglah seorang anak (gatau dari mana) yang bercerita tentang masa lalu .....

    Teriknya matahari kala itu terus menyengat ke kulit hitam legam seorang adit. Ia melihat ke pelataran parkir, ada beberapa orang lalu lalang. Hmmm hidup yang sungguh monoton ! Ia hanya berbaju putih dan bercelana abu abu, berharap bisa menyerap pelajaran hari ini. Apalagi pelajaran yang menerapkan sistem pemilu pake tirus segala. Sangat sangat membosankan dan membuat otaknya mual, perutnya terasa pusing ! oooh no !

    akhirnya datanglah seorang Iqbal Maesa, mereka sempat berbincang sejenak tentang hal yang gak jelas. Iqbal terlihat baik baik saja, tapi ada hal yang aneh setelah perbincangan adit dengan Iqbal.

    dari arah kelas IPS datanglah seorang anak bernama raydi.
    karena iqbal mengenalnya, iqbal pun menyapanya. aneh sangat aneh sekali (kalimat tidak efektif) . Iqbal menyapanya dengan nada yang menyeramkan !


    HHHAAAIII ! subhanallah gila serem banget ! gimana gak serem ! si iqbal nyapa sambil TEURAB (bahasa sunda) atau SENDAWA (bahasa indonesia)

    sontak adit tertawa terbahak bahak menghilangkan kejenuhannya saat itu

    entah apa yang Iqbal makan sebelumnya hingga Iqbal menjadi seperti itu. ckckckckck




    piss to iqbal maesa, gw buka kartu hehe lol!

    Sponsored content

    Re: The Future

    Post  Sponsored content


      Current date/time is Thu Nov 15, 2018 10:00 am